For The Sake of This Country

•December 6, 2007 • No Comments

Lebaran ini kulihat beberapa omen yang membuatku
menyadari bahwa kita harus terus berusaha membangun bangsa
ini menjadi bangsa yang lebih baik. Dan jangan pernah menyerah.
Jangan menjadi seseorang yang apatis dan terbawa arus materialisme.
Apapun atau seberapa kecil usaha kita, sedikit banyak berpengaruh terhadap bangsa ini
atau orang lain.
So do not be an apatic person.

Bangsa ini sudah terbawa ke arus materialisme.
Bangsa ini sudah terdidik money is everything.
nggak perlu berpikir terlalu jauh, asal ada uang no problem.

Kadang kulihat terdapat pembodohan,
kalo kondisi Indonesia sekarang ini
memang sudah seharusnya seperti ini.
Aku lihat banyak anak2 putus sekolah di daerah,
Banyak Gelandangan di pinggir jalan.
Imagine kalo uang korupsi di negara ini dikumpulkan.
semua warga negara ini pasti dapat hidup layak.
Terkadang kita sebagai warga negara apatis.
ah cuman sedikit aja korupsinya,
ah bukan karena aku nggak korupsi negara ini jadi kaya,
so is Ok kan cuman dikit.

Bisa bayangkan dari sedikit dikali sekian banyak orang.
Belum terhitung yang memang koruptor kelas kakap.
dan belum terhitung pemiskinan negeri ini dengan menjual sumber daya alam
dan menjual kekayaan negeri ini ke perusahaan tambang luar.

aku berpikir selama kita masih bisa berusaha dan memberi,
kita lakukan apa yang bisa kita lakukan,
kita beri apa yang bisa kita beri.
besar atau kecil yang kita lakukan dan yang kita beri bukan masalah.
Coz kita dinilai bukan dari apa yang kita beri dan yang kita lakukan,
tetapi kita dinilai dari daya dan upaya yang kita berikan.

So for you Guys out there, do not be apatic.
our effort is nothing compared what this country already gave to us.
so do not stop doing something for this country.
if not us who else.

Best Regards

1965-1966, Hitam Putih

•October 7, 2007 • No Comments

Satu hari seorang anak membuat ibunya menangis. Saat itu mereka tengah berziarah kubur, dan ia hanya bertanya. “Ibu, dimana makam kakek? Mengapa tiap menjelang Ramadan kita hanya mengunjungi nisan nenek Bu?” Sang Ibu terhenyak. Ia terduduk, termenung lama. Air mata menetes dalam diam.

Terkejut dengan tangis tanpa suara itu, baru beberapa tahun kemudian ia mencari tahu kembali. Beberapa orang memilih diam yang sama. Saat akhirnya seseorang menceritakan penjemputan itu. Kepergian yang tak kenal pulang.

Ramadan ini tepat 42 tahun lalu peristiwa tahun 1965 terjadi. Diawali dengan pembunuhan para jendral tanggal 30 September 1965, diikuti pemusnahan 500 ribu hingga 1 juta jiwa rakyat Indonesia dalam periode tahun 1965-1966. Inilah konflik horisontal terdahsyat dalam sejarah NKRI. Pertumpahan darah yang menempatkan tetangga, sahabat karib, bahkan saudara dalam posisi berseberang. Momen dimana seorang manusia merasa berhak membunuh manusia lain. Saat mungkin kalimat ajaib ini terlontar di dalam hati. Aku terlahir putih sedang engkau memilih hitam. Karenanya darahmu halal untukku.

Lantas, apa yang terjadi setelah mereka yang hitam kita punahkan? Bukannya puas, malangnya perasaan hitam putih ini terus dipelihara oleh Orde Baru, dan kita sebagai rakyatnya ikut menumbuhkannya dalam hati. Posisi menang dan kalah menjadi sangat penting, karena dari sanalah kita menciptakan harga diri.

Akibatnya dalam skala nasional peristiwa penumpasan sejenis pemusnahan massa pro PKI dan Sukarnois tahun 1965-1966 tak kunjung berhenti. Orde Baru menghasilkan represi penguasa seperti peristiwa Tanjung Priok dan Aceh, serta konflik horisontal sejenis kerusuhan Ambon. Juga banyak penculikan dan pembunuhan orang-orang.

Era reformasi tak serta merta memperbaiki keadaan. Munir diracun orang, dan tahun ini insiden Alastlogo terjadi. Di tingkat akar rumput, konflik horisontal bukannya berhenti. Yang terbaru di Jawa Timur adalah penyerangan masjid LDII oleh sejumlah massa sesudah shalat tarawih.

Bila kita cermati, ada satu hal yang selalu menyertai peristiwa tersebut. Yakni adanya pihak yang merasa ‘putih’, dan pihak yang dianggap berdosa alias ‘hitam’. Mirip dengan pemusnahan massal tahun 1965-1966.

Mengapa? Karena pola pikir hitam putih ini memang sekilas mempermudah segalanya. Bukankah jika semua orang sepaham dengan kita, berasas tunggal, satu arah satu tujuan, semua jadi baik-baik saja? Jika demikian, untuk mendapatkan dunia yang damai, adalah sah untuk memaksa orang mengikuti paham kita. Karena kita benar dipandang dari sudut moral dan hukum, selaras dengan nilai agama. Jadi tidaklah salah jika sesekali kita menindas mereka yang tidak sesuai hukum, tidak mengikuti kaidah moral, tidak memiliki semangat beragama yang benar. Mereka berseberangan dan karenanya menjadi ‘hitam’. Benarkah?

Seharusnya tidak. Pandangan hitam putih membuat bumi menjadi sempit. Dan itu bukanlah bumi yang secara fitrah diturunkan Tuhan kepada kita yang berbeda. Terlalu banyak lawan dan terlalu sedikit kawan. Lantas kita berubah menjadi seorang ‘pembunuh’. Jika tidak dengan tangan dan senjata, kita membunuhi mereka dengan kata-kata.

Saya teringat dengan deskripsi Goenawan Mohamad tentang perlawanannya terhadap Orde Baru. “Jangan memaki-maki kegelapan, tapi nyalakanlah lilin.”

Saya membaca kembali tulisan-tulisan lama, dan terlihat di sana kalau kadang saya pun masih berpikir hitam putih. Sering saya lupa melihat isi hati para penguasa, menemui sisi manusiawi dari orang-orang yang kadang lupa dan ‘menindas’ rakyat kecil seperti saya. Ah, kalau saja saya sudah lahir di tahun 1965 dengan posisi sebagai pemenang, siapa tahu tangan saya juga ikut bersimbah darah, bergotong royong menyerbu mereka yang saya anggap berhati hitam.

Martin Aleida menulis di Malam Kelabu. Partini, Ibu dan anak-anaknya jadi korban. Karena di rumah mereka bersembunyi seorang komunis. Politik tak punya mata. Mereka pun hilang di tepi bengawan.(Leontin Dewangga, 2003)

Untuk menenangkan hati, saya bertanya kembali pada seseorang yang pernah membuat sang Ibu menangis di masa kecilnya. Apakah engkau mendendam? Bertahun-tahun ia tak menjawab. Tiba-tiba pagi ini ia menemukan sepotong kalimat Paulo Coelho. Forgiveness is a two-way street. Each time we forgive someone, we are also pardoning ourselves.

Lelaki yang pernah membuat ibunya menangis itu percaya pada kata-kata ini. Ia memilih untuk memaafkan, berdamai dengan masa lalu, berdamai dengan diri sendiri. Adakah pilihan yang lebih baik?

Posted by: dokterpenulis

pikiranku

•September 28, 2007 • No Comments

Malam teman,

Apa kabarmu sekarang, semoga kau selalu baik-baik saja disana,

ku lelah sekali berlari bersama dunia, berlari bersama mimpiku. Mengejar idealisme yang semoga terwujud, mengejar peningkatan pembangunan diriku dan negeri ini. Lelah sekali, serasa tak berasa lagi tubuhku disini, pikirku ntah pergi kemana dan belum kembali di sini. Ku tak tau apa yang ku mau, semuanya serasa berbaur dalam irama waktu, saling melompat dan menerjang jalur pikiranku. ku hanya menghabiskan waktu dan menjalani waktu. ku hanya berusaha untuk hadir di setiap waktuku. kurasa sudah cukup sampai disini ku menunggu mu.

Sampai bertemu kembali pikiranku.

Hello world!

•September 21, 2007 • No Comments

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!